Cerpen tak berjudul, diperoleh dari Lamunanku di malam menyambut pagi
created by : Omem Lazaruz Regar
created by : Omem Lazaruz Regar
Suatu Hari Dalam Hidupku Angin malam berhembus kencang, menggoyang batang-batang pepohonan tinggi yang berjajar di sepanjang kompleks East Bay. Daun-daun yang sudah berganti warna berjatuhan ke tanah yang kering dan dingin. Hari masih gelap, sepotong bulan sabit muncul redup di langit, tertutp awan-awan tipis berarak dan kabut. Bintang-bintang hanya berkerlap-kerlip tidak jelas, kadang muncul kemudian menghilang ditelan gelap malam. Sunyi, hanya suara serangga-serangga yang keluar di malam hari dan kelebat sayap seekor burung hantu di antara pepohonan. Suasana East Bay malam ini jauh berbeda dengan suasana New York City pada malam hari. Cahaya lampu di kota dan keramaian sepanjang malam seolah menggantikan bintang-bintang yang hadir di atas langit New York yang cerah malam itu. East Bay memang terletak di sebuah teluk di pinggiran New York sebelah timur. Tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini suasana East Bay benar-benar sepi. Malam-malam sebelumnya, suasana East Bay tidak jauh berbeda dengan New York. Malam ini, hanya sesekali terdengar suara mobil melaju dengan cepat di tengah dinginnya malam musim gugur di jalanan East Bay. Felicity Dawn Gwynedd, malam itu terbangun pada pukul dua malam di tengah-tengah waktu tidurnya. Ia segera menyingkirkan selimut dari kakinya, mengambil segelas air putih di meja sebelah tempat tidurnya, dan meneguknya dengan cepat. Segera setelah ia menaruh gelasnya, ia berjalan menuju meja komputernya dan menyalakannya. Ia memutuskan untuk mebuka akun e-mailnya untuk mengecek e-mail yang masuk. ”Dingin sekali...” gumamnya. Sebantar lagi musimm dingin akan tiba, akhir musim gugur kali ini udara cukup kering. Kemungkinan salju akan turun lebih awal tahun ini. Matanya menelusuri layar komputernya dan melihat-lihat kotak masuknya. Hanya ada tiga e-mail baru yang masuk. Satu dari sahabatnya, Annabel, dan dua e-mail dari teman-temannya di California. Felice membaca ketiganya dengan cepat. Beberapa kali angin dingin berhembus, seperti menembus tembok, masuk ke dalam kamarnya di lantai dua rumah keluaraga Gwynedd. Ia menggigil dan berdiri, kemudian ia berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil selapis sweater untuk menghangatkan dirinya. “Aneh, mengapa malam ini sepi sekali?” ia bergumam pada dirinya sendiri. Tidak biasanya East Bay sepi pada malam hari. Setelah menemukan sebuah sweater, ia menggunakannya dan duduk kembali di meja komputernya.*** ”Pagi, Mom!” sapa Felice pada ibunya dengan bersemangat. Ia agak pusing karena kurang tidur. Awan mendung menaungi langit East Bay pagi ini. Di luar rumahnya, sudah banyak orang melakukan aktifitas pagi mereka. Sekedar jogging, bersepeda atau membersihkan halaman rumahnya. Suara sepatu mendekati pintu depan rumahnya. Seorang pengantar koran seumurannya menaruh koran di depan pintu. Ia bergegas menuju pintu, koran itu segera diambilnya dan dengan senyum ia mengucapkan thanks pada sang pengantar koran. Dibacanya headline pagi ini. ”Presiden Melawat ke Timur Tengah.” Ia segera masuk kembali ke dalam rumah dan menemukan ayahnya tengah duduk di ruang makan, menyeruput kopinya. ”Hei, Felice, berikan itu padaku!” kata ayahnya sambil menunjuk koran yang dibawanya. ”Nih, Dad...” ucapnya seraya menyerahkan koran yang dibawanya pada Mr. Gwynedd. Ibunya sedang memasak omelette untuk sarapan di dapur, tepat di sebelah ruang makan. ” Pagi Felice, Dad...” sapa kakak Felice, Jared, yang baru saja bangun. Disusul adiknya Joanne. Jo masih terlihat mengantuk, berkali-kali ia terlihat menguap hingga Mom menyuruhnya mencuci muka. ”Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini, Jared?” tanya Felice. ”Well, pergi dengan dengan teman-temanku, mungkin. Kami akan ke rumah Fred siang ini.” jawabnya singkat. Felice hanya menganggukan kepala mendengar jawaban Jared. Ia segera duduk saat ibunya menyajikan omelette yang telah dibuatnya di meja makan. ” Aku pergi ke rumah Annabel saja nanti,” pikirnya menentukan rencana hari ini. Selesai sarapan, Felice bergegas menuju kamarnya, berganti baju dan pergi keluar bersama Jared. Ia diantar dengan mobil menuju rumah Annabel. Kemudian Jared pergi ke rumah temannya.*** Malam itu, sekitar pukul enam sore, Felice diantar pulang oleh Annabel ke rumahnya. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Annabel memacu mobilnya kembali ke rumahnya. Felice memasuki jalan setapak di pekarangan rumahnya menuju pintu utama. Ia tiba-tiba merasakan firasat ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumahnya. Dengan segera ia berlari membuka pintu rumahnya dan menyerbu masuk. Felice terkejut mendapati isi rumahnya agak berantakan dan tidak dikunci tanpa ada seorangpun di rumah. Dengan panik ia berteriak memanggil-manggil keluarganya. ” Mom, Dad, Joanne, Jared...” teriaknya sambil memandang berkeliling rumahnya yang luas setinggi dua lantai itu. Sunyi, tidak ada yang menjawab. ” Kemana mereka?” pikirnya. Otaknya telah dipenuhi pikiran-pikiran buruk. Bagaimana kalau Joanne disekap? Apakah mereka terluka? Baru saja ia mau berlari menuju pintu untuk meminta bantuan, seseorang membekap mulutnya dan menghantam bagian kepalanya dengan cukup keras. Pukulan terkeras yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Felice merasakan kepalanya sangat sakit dan berat, kemudian pandangannya mengabur perlahan. Sesaat sebelum pingsan ia sempat berpikir bahwa ini adalah akhir hidupnya. Di tempat lain, orangtua Felice dan Joanne, adiknya, berusaha menelepon ke ponsel Felice yang pada saat itu dimatikan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah setelah sepanjang siang menghabiskan waktu di rumah salah satu teman Mr. Gwynedd. ” Ayo, angkat ponselmu, Felicity Dawn Gwynedd!” ibunya mulai tidak tenang setelah berkali-kali mencoba menelepon, namun belum dijawab. ” Mungkin Felice tidak membawa ponselnya. Tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai di rumah,” Mr. Gwynedd berusaha menenangkan istrinya. Sesampainya di depan rumah, Jared ada di halaman rumah bersama beberapa orang polisi dan dua buah mobil polisis. Mrs Gwynedd segera turun dari mobilnya. Ia berusaha menerka hal apa yang mungkin terjadi saat ia pergi. ” Jared, apa yang terjadi?” Mrs. Gwynedd berseru panik pada Jared. Jared dan seorang opsir polisi segera menghampirinya. ”Mom, aku benar-benar minta maaf belum menghubungimu, aku pikir kau akan segera sampai, karena aku juga baru saja tiba dan menemukan isi rumah berantakan dan beberapa barang menghilang. Kemudian aku menelepon polisi untuk memastikan apakah rumah kita aman.” jelas Jared sambil menunjuk mobilnya yang masih di luar garasi, menandakan ia baru saja tiba. ” Lalu di mana Felice?” Mr. Gwynedd meenggandeng tangan Jo dan menghampiri mereka, bertanya. ” Selamat malam Tuan dan Nyonya Gwynedd. Saya Opsir Davis, maaf bila saya menyela. Sepertinya rumah Anda baru saja dirampok, kemungkinan setengah jam yang lalu. Untuk keberadaan putri Anda, kami belum dapat memastikannya. Maaf.” Opsir Davis menjelaskan dan menulis beberapa hal di notes kecil yang dibawanya.*** Sebuah van putih dan kusam melintas keluar dari perbatasan East Bay menuju daerah pantai di utara East Bay. Jalanan cukup ramai petang itu. Dua orang di dalam van itu terdengar sedang terlibat sebuah pertengakaran. Tiba-tiba Felice terbangun dari pingsannya mendengar bentakan seseorang dalam mobil yang dinaikinya, van putih itu. Mulutnya ditutup sebuah slayer yang membekapnya cukup erat. Tangannya terikat oleh tali di belakang punggungnya. Ia belum mati, pikirnya dalam hati. Satu kata yang melintas di dalam pikirannya adalah penculikan. Ia kembali menutup matanya dan berusaha menguping pembicaraan dua penculiknya di dalam van itu. ” Bagus sekali kau melibatkan kita dalam penculikan dan polisi sudah pasti akan lebih mudah mencari dan menemukan kita.” kata seorang penculik di kursi penumpang. Kawannya masih diam dan terlihat sangat kesal karena terus disalahkan. ”Hey, aku sudah minta maaf, dan aku benar-benar panik saat anak itu masuk ke dalam rumah. Dan mengapa kau tidak mencegahku membawanya. Ini bukan hanya kesalahanku!” jerit penculik yang sedang menyetir itu ganti menyalahkan temannya. Felice masih berusaha mendapat informasi di mana ia berada sekarang sebelum para penculik itu menyadari bahwa ia telah sadar dari pingsannya. Ia melihat ke luar, ke arah jalan dan terlihat lautan di sebelah kanannya. Ia menyadari bahwa ia masih berada dekat dengan East Bay. Setalah mengetahui di mana ia dibawa, Felice mencoba kembali menidurkan dirinya karena kepalanya terasa sangat berat. Tak lama kemudian ia kembali tertidur. Malam itu keluarga Gwynedd sedang berada di kantor polisi untuk meminta bantuan memastikan Felice baik-baik saja. Dua orang saksi, tetangga Gwynedd mengatakan mereka melihat van putih asing keluar dari jalna depan rumah keluarga Gwynedd dengan tergesa-gesa menuju ke jalan raya. Para polisis segera memastikan keberadaan van itu. Kepolisian segera melakukan kontak dengan beberapa kantor polisi di luar wilayah East Bay. Sebuah laporan dari pos polisi East Bay bagian utara mengatakan bahwa van itu melintasi perbatasan pusat kota East Bay menuju daerah sebelah utara East Bay. Seorang pimpinan polisi sektor East Bay segera memerintahkan untuk mengejar van tersebut. Di tengah jalan, van putih itu berhenti di pom bensin untuk mengisi bensin. Dua orang penculik Felice turun dari mobilnya dan berjalan ke arah swalayan di dekat pom bensin tersebut. Setelah merasa para penculiknya sudah cukup jauh dari mobil, Felice berusaha melihat keluar dan memikirkan cara untuk kabur. Felice tersenyum lebar, ia menyadari bahwa kakinya tidak diikat. ” Bodoh sekali kalian...” makinya pada para penculiknya. Ia kemudian menaikkan kakinya, melipatnya seperti sedang bersimpuh dan kini telapak kakinya ada di belakang punggungnya. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia berusaha menarik-narik tali ikatan tangannya dengan jari-jari kakinya agar segera longgar dan lepas. Felice berdoa agar orang-orang itu tidak kembali ke van mereka. ”Cepat, ayo segera lepas, ayolah, keluargamu khawatir padamu, selamatkan dirimu sendiri....” Felice menyemangati dirinya untuk berusaha melepaskan tali ikatannya. Penculiknya terlihat sedang keluar dari pintu swalayan. Dengan jantung yang berdebar sudah sangat cepat, Felice masih berharap ia diberi kesempatan untuk kabur. Akhirnya, tali yang mengikat tangannya melonggar sehingga ia bisa mengeluarkan tangannya dari ikatan. Segera ia membuka pintu van itu dan berlari keluar. Ia melepaskan slayer yang membekap mulutnya. Ia ingin menangis menyadari masih diberi kesempatan untuk bertemu keluarganya. Namun, kesempatan itu tidak semudah yang ia bayangkan. Penculik-penculik itu sudah memasuki van dan mengejarnya. Felice berteriak meminta tolong. Namun, di sekitarnya tidak ada seorang pun yang terlihat. Malam itu sungguh mencekam baginya. Ia melintasi jalan raya yang gelap tanpa lampu, sudah cukup jauh dari jalan raya yang tadi ia lewati, berada di dekat pantai. Kini, di sekitarnya hanya terlihat pohon pinus-pinus tinggi di pinggir jalan.Akhirnya Felice memutuskan masuk ke hutan itu dan bersembunyi. Felice sudah sangat kelelahan berlari. Dua orang penculiknya turun dari mobil dan mengikutinya masuk ke hutan. Ia segera bersembunyi di antara pohon-pohon tinggi menjulang dan berbatang dingin itu. Saat itu ada kekuatan yang mendorong dirinya untuk tetap bertahan. Felice segera berdiri dan masuk makin ke tengah hutan. Ia memastikan sudah masuk cukup jauh ke dalam dan penculiknya tidak akan menemukannya lagi. Felice bertahan malam itu di dalam hutan yang dingin. Ia ketakutan dan tidak bisa tidur. Sambil menunggu pagi, ia tidak tidur, tetapi hanya berdoa dan sesekali bersenandung memecah kesunyian dan kegelapan di sekitarnya. Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Felice mendengar suara air mengalir dan berusaha mencari air untuk diminum. Ia terlonjak menemukan sebuah sungai kecil dengan air dingin yang mengalir. Ia berjongkok dan mengambil air tersebut dengan tangannya. ” Aku tidak tahu di mana aku sekarang.” Felice mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan berusaha menghidupkannya. Baterainya habis. Felice terduduk. Tiba-tiba ia mendengar suara-suara beberapa meter di dekatnya. Langit mulai berwarna kemerahan. Fajar telah tiba. Felice kembali berusaha mendengarkan suara-suara itu, yang terdengar lebih seperti suara sekumpulan orang daripada suara alam. Segra ia bangkit dan menuju arah suara itu untuk meminta bantuan. Ia memasuki hutan dan meyakinkan dirinya bahwa memang ada orang di sana. Hening, tiba-tiba. Felice menjadi bingung, namun ia terus berjalan menurut instingnya. Sebuah tangan menyentuh pundaknya dengan tiba-tiba. Dengan segera ia membalikkan badan untuk melihat siapa orang itu. Felice terkejut melihat seorang Asia berkulit kuning dan bermata sipit itu berada si tengah hutan. Karena sudah kelelahan ia berusaha menjelaskan bahwa ia mencari bantuan untuk membawanya pulang ke East Bay. Meski sempat terkendala bahasa, dan akhirnya beberapa kali menggunakan bahasa tubuh, orang Asia berusia sekitar 20 tahun bernama Hayama itu bersedia mengantarkannya ke East Bay. Hayama merasa iba pada Felice yang terlihat pucat dan kelelahan. Hayama memanggil teman-temannya dan mengajak orang-orang Asia lainnya itu mengantarkan Felice ke East Bay. Dalam perjalanan Felice bercerita pada seorang Asia, teman Hayama bernama Marie. Ia cukup fasih berbahasa Inggris. Setelah itu Marie menceritakan pada teman-temannya dengan bahasa Jepang. Felice terharu saat memasuki East Bay. Ia teringat pada orangtuanya, dan dua saudaranya, Jared dan Joanne. Ia menunjukkan di mana arah rumahnya kepada teman-teman Jepang-nya. Setelah sampai, Felice segera berlari memasuki pekarangan rumahnya dan menyerbu mesuk ke dalam rumahnya. Mrs. Gwynedd, yang malam itu tidak bisa tidur dan hanya duduk di kursi ruang tamu terkejut melihat Felice berada di hadapannya. Ia bangkit dan menghambur, memeluk Felice dan menangis. Mr. Gwynedd, Jared dan Joanne menghampiri Felice dan memeluknyta. Kemudian, Felice mengajak teman-teman yang telah mengantarnya pulang tadi masuk dan berkenalan dengan keluarganya. Felice kemudian duduk di kursi ruang tamu dan tanpa sadar tertidur. Di tengah mimpinya, ia melihat dirinya sendiri. ” Well, aku memang tidak bisa menerka apapun yang akan terjadi di hidupku sedetik lagi....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar